Baik langsung saja, di sini saya akan membawakan materi yang berjudul "Diksi di Dalam Puisi"
Sebenarnya apa yang ada di antara puisi dan diksi? Apakah diksi itu penting dalam puisi?
Yuk, simak pembahasan
check it out
Oh iya, sebelum terlalu jauh membahasnya saya akan beri tahu kalian tentang pengertian dari puisi dan diksi dulu ya.
Pengertian puisi menurut KBBI adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.
Dan pengertian diksi adalah pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan).
Nah, seperti yang dikatakan pengertian puisi tadi bahwa yang terikat dengan puisi itu hanyalah irama, rima, dan matra. Tidak termasuk diksi.
Itu artinya bahwa sebenarnya antara puisi dan diksi tidaklah memiliki keterikatan yang kuat.
Puisi akan tetap dianggap sebagai puisi, meski di dalamnya tidak terdapat diksi.
Tapi, menurut saya pribadi puisi tanpa diksi itu rasanya hambar. Kalau diibaratkan puisi adalah sebuah masakan, maka diksi itulah garamnya.
Dengan diksi, puisi yang kita tulis rasanya akan lebih gurih-gurih gimana gitu.
Coba aja deh kalian bandingkan puisi yang ada diksinya dan tidak ada diksinya. Pasti yang lebih enak dibaca itu puisi yang memiliki diksi di dalamnya.
Walaupun, terkadang kita tidak paham arti diksinya tapi tetap saja rasanya membaca puisi berdiksi itu nikmat rasanya.
Untuk memasukan diksi ke dalam puisi itu kita tidak harus menghafal ribuan diksi kok. Sekarangkan udah ada si mbah google. Kamu tinggal cari aja diksi yang sesuai dengan puisi yang ingin kamu buat di sana.
Nih, saya punya sedikit kumpulan diksi. Akan saya share ke kalian.
Diksi
Adorasi : Pengorbanan
Afsun : Pesona
Ajun : Maksud
Akara : Bayang
Aksa : Jauh, Mata
Aksama : Ampunan
Alap : Bagus
Ambu : Aroma
Ambigu : Makna ganda
Anak Dara : Anak perempuan yang sudah mencapai usia remaja dan belum kawin
Anala : Api
Anantara : Diantara
Anca : Rintangan, Kerugian
Ancala : Gunung
Anggara : Liar, Buas
Anila : Angin
Anindita : Sempurna
Anindya : Cantik Jelita
Anitya : Tidak Kekal
Arkais : Beciri kuno dan tua, tidak lazim dipakai lagi (tentang kata)
Arumi : Wangi, Harum
Arunika : Waktu matahari terbit
Asmaraloka : Dunia (alam) cinta kasih
Asrar : Rahasia
Astu : Puji
Atma : Jiwa
Ayar : Air
Bagaskara : Matahari
Baskara : Matahari
Baswara : Berkilau, Bercahaya
Bena : Menarik, Banjir, Ombak
Benawat : Sombong
Bernas : Berisi Penuh, Semakin Berisi
Bhama : Nafsu
Bianglala : Pelangi
Buana : Dunia
Buntara : Gairah, Semangat
Bumantara : Langit
Candala : Rendah diri
Chandra : Bulan
Citraleka : Pejabat penulis prasasti
Citta : Maksud Hati, Pikiran
Cumbana : Mencium
Dahayu : Cantik, Molek, Elok
Daksa : Badan, Tubuh
Dama : Cinta Kasih
Dayita : Kekasih
Dekap : Peluk
Derai : Tiruan bunyi titik-titik air hujan yang jatuh, Butir-butir
Dewana : Tergila-gila
Eka : Satu
Elegi : Syair ratapan dan dukacita
Faktitus : Imitasi
Gapah : Cakap, Lincah
Gata : Telah Pergi
Gelabah : Kemenangan
Gelebah : Sedih, Gelisah
Gundah : Sedih, Bimbang, Gelisah
Haki : Energi Spiritual
Harsa : Kegembiraan
Hima : Kabut
Hirap : Hilang
Ina : Matahari Pagi/Senja
Indurasmi : Sinar rembulan
Jamanika : Tirai, Tabir
Janardana : Menggairahkan
Jaremba : Menggapai
Kalis : Bersih, Murni, Suci
Kama : Dipuja
Kampa : Getaran
Kampana : Mempunyai Getaran
Kaprah : Biasa, Lumrah
Kawi : Penyair
Kenes : Lincah, Genit
Kenya : Gadis
Kirana : Sinar Cantik & Molek
Korelasi : Hubungan Timbal Balik
Lokawigna : Penganggu dunia
Lunglai : Lemah sekali
Mahligai : Istana
Mangkus : Efektif
Masygul : Bersusah hati, Sedih, Murung
Matrik : Batasan
Mega : Awan
Merapah : Merantau
Miang : Lugut
Nabastala : Langit
Nestapa : Sedih Sekali, Susah Hati
Nirwana : Surga
Nirmala : Tanpa cacat, Suci
Padmarini : Indah serta tajam
Payoda : Awan
Persistensi : Gigih, Kukuh, Tekun, Terus menerus
Pilau : Perahu
Pilon: Tidak tahu apa-apa
Pitarah : Pendahulu, Leluhur
Redum : Mendung
Relikui : Benda keramat
Repui : Rapuh, Lembah
Rimpuh : Sudah tua sekali
Rinai : Gerimis, Rintik-rintik
Saban : Tiap-tiap
Sahaja : Sederhana
Sangkil : Efisien
Sedari : Sejak
Sekala : Sewaktu-waktu
Semenja : Sedang, Menengah
Sempena : Berkah
Sendu : Sedih, Pilu, Dukacita
Serayu : Hembusan angin
Sporadis : Tidak tentu, Kadang-kadang
Suar : Nyala api sebagai tanda
Subtil : Halus, Lembut
Sumarah : Menyerah kepada keadaan, Pasrah
Swastamita : Waktu matahari terbenam
Tafakur : Merenung
Taklif : Penyerahan beban yang berat
Tandang : Berkunjung, Bertamu
Temaram : Remang-remang
Termaktub : Tertulis, Tercantum
Ufuk : Kaki langit
Ugem : Berpegang teguh
Umbu : Nenek Moyang
Urgensi : Sangat Penting
Visus : Penglihatan tajam
Widya : Pengetahuan
Selebihnya kalian cari sendiri, ya.
Selain ngeshare diksi saya juga akan bagi tips ke kalian. Gimana membuat puisi dengan menggunakan diksi.
Tips Membuat Puisi Berdiksi*
Pertama, sama halnya seperti puisi pada umumnya kalian harus membuat dulu satu tema. Misalnya, temanya malam.
Kedua, kalian tulis saja satu baris kalimat puisi tersebut. Misalnya :
Pesona bulan begitu menakjubkan di bawah langit
Ketiga, setelah selesai membuat satu kalimat kamu bisa langsung coba cek adakah diksi yang cocok untuk menggantikan setiap kata dari sebaris kalimat puisi tadi.
Nah, jika kalian menemukan diksi yang pas maka langsung saja ganti kata-kata dari kalimat tadi.
Misal :
Afsun chandra begitu menakjubkan di bawah cakrawala
Tahap yang selanjutnya, kalian harus juga pastikan bahwa kata tersebut benar-benar ada di dalam KBBI. Sebagai bentuk kehati-hatian saja.
Terakhir, tinggal kalian rangkai beberapa kalimat lagi agar membentuk baitan puisi.
Selesai
Tips tadi sekaligus menutup materi penyampaian saya ya. Terima kasih telah memberikan saya kesempatan untuk menjadi pemateri dalam seminar kali ini. Maaf, jika terdapat banyak typo atau kekurangan lainnya. Dan semoga dalam seminar kali ini kalian mampu mengambil pelajaran dalam hal positifnya, jika terdapat yang negatif maka tinggalkan saja bersama saya.
Sekian, terima kasih.
1 komentar:
MasyaAllah terima kasih ilmunya :)
Posting Komentar